Glitter Words
[Glitterfy.com - *Glitter Words*]
Glitter Words
[Glitterfy.com - *Glitter Words*]
Glitter Words
[Glitterfy.com - *Glitter Words*]

27 July 2015

When I Believed, Story isn't True.

Kurasakan kebekuan menyusup setiap jengkal aliran darahku. Perlahan kuhela nafas panjang untuk redakan sesak dalam dada ini. Tanpa sadar setitik air mataku jatuh menyapa kedua pipiku.
"Malam semakin larut saja, rupanya kau belum pulang juga?" Pertanyaan itu membuat gelombang getaranku semakin tinggi.
"Kenapa kau diam saja?" begitu pertanyaannya kembali bernyanyi dalam jiwaku. Rasanya bibir ini sangat sulit menjawab pertanyaan darinya meskipun pertanyaan itu terkadang melukai perasaanku.
"Belum." Jawabku singkat tanpa menatap bola matanya yang begitu indah itu.
Bintang malam ini cukup beruntung karena rembulan menemani sosoknya. Aku segera mencoba melarikan diri darinya. Kini jari jemarinya yang halus mencengkram jari jemariku yang tak kalah halusnya. Sungguh alergi panas dinginku mulai beraksi. Itulah sebabnya kusembunyikan. Aku tahu bahwa kamu tak pernah menegaskan untuk tetap bersamaku.
"Aku antar ke dokter ya? Aku tak mau kamu sakit." Perhatiannya sering kali membuatku lupa dengan semua permasalahanku. Entah, mengapa perasaan ini sangatlah besar terhadapnya. Aku tak tahu apakah ini cinta ataukah ketertarikan sesaat? Hmm..

Oh ya, aku lupa memperkenalkan diriku. Maria Titis, nama lengkapku. Aku, seorang gadis yang mempercayai cerita dongeng Cinderela. Aku penggila novel bergenre teenlite dan aku selalu memimpikan seorang pangeran yang berasal dari kalangan musisi. Ups.. Cukup disini saja perkenalan kita.

Azan subuh telah bersenandung. Alunannya sangat syahdu. Aku segera membuka tirai daun jendelaku. Ku tatap rumah yang berada di seberang jalan itu. Lalu lima menit akupun beranjak meninggalkan kamarku dan segera bersiap-siap untuk mengelilingi sudut kotaku, Yogyakarta.

Tepat pukul 07.00 WIB.
Akupun menelusuri lorong-lorong kompleks perumahanku.
"Ekhm... Lari sendirian?" suara itu menggugah lamunanku hingga terjatuh ke tanah yang akan membuat tubuhku terluka. Akan tetapi aku salah. Oh Tuhan, kau pertemukan kembali sosok yang telah menggendong dan mengantarku pulang ke rumah, tepatnya peristiwa larut malam seusai rekaman di studio RayReady.
"Kamu tak akan pernah kulepaskan karena kamu akan tetap berada disini memandangi wajah tampanku." Ucapnya selalu tepat dengan dialog hatiku.
"Apaan sih? Dasar cowok sok so sweet." celotehku dengan jutek dan tetap membiarkannya menggendongku lagi.
"Kau ini payah! Cowok setampan ini kau bilang sok so sweet. Hey aku memang romantis... tis... tis.. tis..." Jawabnya kepadaku. Kini ia perlahan mendekatkan hidungnya ke hidungku hingga membuatku pingsan.
"Oh Tuhan, kau pingsan kembali. Cewek aneh tapi manis juga dan tak kalah cantiknya." Batinnya. Lalu membawaku menaiki mobil ferarinya.

Dua menit kemudian.
Ketika mobil hendak melaju, alunan musik rock telah menyambar gendang telingaku. Akhirnya keisenganku dengan berpura-pura pingsanpun berhasil diketahuinya. Sepanjang perjalanan, kita saling bercanda selayaknya teman lama atau sahabat karib.

Beberapa jam telah berlalu..
Sore ini kami menghabiskan waktu berdua di pantai Glagah. Dimana pantai itu dapat menyembuhkan luka dan menengkan hati.
"Tis, jujur baru kali ini aku merasa nyaman sama kamu. Ya, meskipun kita baru pertama kalinya bertemu. Oh ya, namaku, Muhammad Raynald Prasetya. Saaaatu lagi nama bekenku, Ray Prasetya dan cukuplah kamu panggil Ray." Ucapnya dengan gayanya super kece.
"Nyaman? Emang aku rumah kamu?" Sahutku sambil memandangi gelombang ombak pantai yang menggulung indah itu.
"Rumahku adalah hatimu. Dimana hatiku tinggal dalam hatimu, Tis." Ray pun menggenggam kedua tanganku dan kita saling menatap menebarkan bunga cinta.
"Aku butuh banyak alasan Ray, buat percaya bahwa cinta yang kau katakan bukan sekedar imajinasiku." Akupun kembali mengelak dan memastikan bahwa ini adalah nyata.
"Tis, aku tahu, aku bukan seorang pria yang sempurna untukmu. Akan tetapi kau ambil sejumput aksaraku dan aku mencintaimu dengan caraku yang sempurna."
"Jika kau datang tidak untuk menyakitiku, satu syarat dariku bahwa kau harus tanda tangan kontrak cinta denganku."
"Ok. Besok akan kubuatkan untukmu."
Akhirnya kita berdua saling menyetujui perjanjian itu. Tentu saja dengan alasan tak ingin saling melukai. Cinta adalah sahabat sejati dalam hidup dan ia selalu abadi dalam setiap momen. Walaupun terkadang menumpahkan banyak air mata yang mengandung banyak varian rasa. Pikirku simple.

Satu tahun berlalu..
Aku pun bahagia sekali dengan apa yang sudah kumiliki. Suatu ketika tepat aku ingin datang ke konser Ray, tiba- tiba rasa sakit dalam hatiku pun kembali menghantui.
"Oh Tuhan, apakah ini benar-benar ketakutan terbesarku? Ketakutan terbesarku yang tak mudah untuk diungkapkan bahkan dijelaskan secara detail." Gumamku dalam hati.
Tiba-tiba Cakka sudah berada di depan teras rumahku sambil memainkan bola basket kesayangan miliknya.
"Ciee yang mau pergi. Rapi banget." Ucap Cakka menghampiriku ketika aku berdiri di depan pintu dengan langkah ragu-ragu.
"Kenapa Tis? Ini bukan sebuah kutukan. Aku tahu apa yang ada dalam hati dan pikiranmu." Bagiku celotehan Cakka saat ini tak mengagetkan lagi karena ia paham dengan cara dan sikap keseharianku yang sok misterius ini. Makhlumlah, sahabat dari kecil pastinya terperinci banget dong.
"Kka, tapi masalahnya ini berulang kali dan bukan sekali."
"Tis, jika cowok yang tulus dan benar-benar mencintaimu pasti dia tak akan pernah menyakiti perasaannya."
"Hmm.." sesaat aku menghela napasku dalam-dalam. Lalu kuteruskan kembali, "When you believe it, Kka. Bagaimana jika tragedi itu terjadi padamu? Apakah kau akan tetap pada prinsipmu?" Jawabku sambil berimajinasi tingkat tinggi.
"Aku akan tetap pada prinsipku, Tis. Ibuku selalu mengajariku hal yang terbaik untuk.." ucapan Cakka segera kupotong.
"Menghormati seorang wanita? Kka..." Kini giliran elakkanku dipotong olehnya.
"Ray itu tipe cowok setia, bertanggung jawab, taat agama. Apalagi yang kau ragukan darinya? Selingkuh? Itu bukan pekerjaannya, Tis." Tegas Cakka sambil memegang kedua bahuku dengan kedua tangannya dan ia berusaha meyakinkanku setengah mati.
"Okay. Jika memang dia tepat apa yang kau katakan. Apakah kau berani jamin atas nama Ray?"
"Percayalah padaku, Tis. Ayo cepat datang ke konser Ray! Lupakan kutukan yang menghantuimu selama ini !! Kurasa itu bukan kutukan, Tis." Cakka pun kembali meyakinkanku. Pada akhirnya, aku memutuskan pergi ke konser Ray meskipun masih dihantui dengan kutukan yang kupercayai itu.

Saat tiba di konser Ray..
Aku pun rela berdesak-desakkan dengan RayReady yang lainnya dan itu sama persis dengan konser-konser yang berkali-kali kukunjungi hanya untuk menontonnya. Entah, kedua kaki ini gemetaran ketika berada di bagian depan dan dua bola mata ini rasanya ingin sekali bercerita banyak hal. Oh Tuhan, kutukan itu kembali menghantuiku. Sejenak aku memejamkan mataku. Kini aku kembali membuka kedua mataku dan langsung menatap sosoknya yang berada di back stage. Tiba-tiba dari arah lain seorang gadis cantik datang memeluk Ray erat-erat dan mencium pipi kanannya. Hatiku mulai bernyanyi untuknya. Segera aku meninggalkan konser ini dengan kekecewaanku.

Di depan taman bacaan..
"When you believe it Kka! When you believe it Kka!" Teriakku seketika. Kesunyian malam ini membawa petakaku untukku. Cakka datang tepat pada waktunya melihat aku terluka, rapuh, dan menangis terkapar. Hanya Cakka yang tahu bahwa aku hanya bisa menangis ketika bersamanya.
"When you believe it Kka! Apa semua yang kau bilang itu? Salah! Story is not true. Kutukan tetaplah kutukan, Kka!" Ucapku sambil memukuli Cakka dan bersandar dibahunya.

Setelah enam puluh menit berlalu..
Ray menyusulku dan ia melihatku ketika aku sedang bersama Cakka. Aku pun mengetahui keberadaanya tetapi aku tak pernah menganggapnya hadir saat ini.

Cintaku telah kau racuni dengan seribu alasan yang kau sembunyikan. Bahkan penaku telah kau patahkan.

Menjelang subuh aku masih rapuh dan tak menginjakkan kaki ku di lantai rumah. Meskipun Cakka telah mengantarku pulang dan sampai di depan pintu gerbang rumah. Semalaman suntuk air mataku belumlah mengering. Di samping rumah aku menangis. Dimana tempat itu adalah tempat favorite ku, dulu. Ketika aku masih bahagia bersama RAYNATHAN sebelum kutukan itu menjemput kebahagiaan kita. Hahaha. RAYNATHAN, kekasih terbaikku di masa laluku. RAYNATHAN pergi meninggalkan aku demi seorang gadis lain yang lebih mencintainya daripada aku. Aku? Seorang gadis polos yang baru saja mengenal cinta. Kini bagiku peristiwa pahit itu adalah kutukan yang Tuhan berikan untukku. Saat inilah kutukan itu kembali menyerangku. Apalagi kekasihku saat ini juga memiliki panggilan yang sama, yaitu Ray.

Menjelang hari ke enam puluhku..
Ibuku menemukan diriku. Lalu aku pulang ke rumah dan aku segera ke kamarku. Kini orang tua ku menangis histeris.

Waktu telah bergulir. Malam pun telah berganti. Matahari telah pulang lebih cepat dari jam kerjanya.

22 November 2014
Hari ini adalah hari ke enam puluhku. Dimana hari ke enam puluhku tanpanya. Air mata ini belum lama mengering. Namun serpihan hati ini masih berpendar kemana-kemana. Aku tak memperdulikan fisikku. Baju ku yang compang-camping. Bau badanku tak sedap. Semenjak kejadian itu akupun tak mandi dan tidak makan. Rambutku seperti orang gila. Cakka sering kali menghiburku. Namun semua usahanya telah gagal. Ray pun tak memperdulikan keadaanku. Mungkin, dia telah bahagia bersama pilihannya.

Tok.. Tok.. Tok...
Seorang laki-laki berkemeja putih dengan jas hitam datang mencariku. Ia bertanya kepada Ibuku juga Ayahku. Sementara aku masih berada di kamar atas sambil bertanya-tanya siapa yang memarkirkan mobil ferari berwarna merah di depan pintu gerbangku. Aku pun segera turun mencari Ibu dan Ayahku.

Ray melihat keadaanku yang sangat buruk saat ini. Aku pun menatap kedua bola matanya dan memperhatikannya secara inchi. Mengapa banyak pertanyaan yang belum terjawab olehku.
"Oh Tuhan, kau telah mempertemukan aku dengannya kembali. Tis, aku minta maaf..." ucapannya terpotong dan aku menepis tangannya. Setelah aku mendengar suaranya yang khas di gendang telingaku.
"Buat apa kamu kesini cuma ingin menjadikan aku gila?"
"Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu, sama sekali."
"Nyatanya apa? Selama ini kamu kemana saja?"

PLAAAÀAAAAAAAAAAKKKKKKKKK !!!!!
Aku pun segera menampar pipi kanannya dengan jari jemariku yang tak seharusnya kulakukan hingga pipinya memerah.
"Tampar lagi Tis? Ayo tampar lagi jika aku bisa menebus semua kesalahanku padamu!" Ray jongkok di depanku dan ia sangat pasrah bahwa aku dapat melakukan itu.
"Tak semudah itu Ray! Aku bukan seorang drummer yang pandai memukul. Justru kau yang pandai memukul hatiku hingga HANCUR TANPA SISA !! AKU BENCI KAMU !!!" Aku pun segera lari menaiki tangga kamarku.
"Titis, aku akan tetap disini sampai kau memaafkanku!" Teriak Ray dan tetap jongkok di lantai.
Kedua orang tua ku pun memarahi Ray habis-habisan. Bahkan mencaci-maki super duper mengerikan. Aku pun menyaksikannya di balik tangga arah kamarku. Meskipun aku harus meyakinkan bahwa dia tidak pantas kuperjuangkan.

Satu bulan tepat..
Ray masih berada di rumahku. Ray pun selalu saja menolong kesusahan orang tuaku hingga ia rela menjadi seorang satpam di depan rumahku yang siap kepanasan dan kehujanan. Pokoknya satpam tahan banting demi mendapatkan maaf dariku. Dan ia rela melihat aku bermesraan dengan Nico, teman Cakka, Elang, dan aku waktu kecil. Jujur hati ini masih ada cintanya bukan cinta Nico.

Tepat di hari ulang tahunku..
Semua isi ruangan rumahku terias dengan indah dan rapi. Ini benar-benar pesta ulang tahunku yang tak akan pernah kulupakan. Ya, anggap saja ini hadiah Tuhan karena aku melanggar kutukannya.

Tengah malam tepat..
Semua orang telah berkumpul. Cakka, Elang, dan Nico pun juga telah berkumpul. Namun, hati ini masih tetap menunggu satu orang yang sangat berarti dalam hidupku. Satu orang yang sangat melukai perasaanku. Satu orang terlalu abadi dalam setiap detik hembusan napasku. Satu orang itu hadir dalam pesta ulang tahunku.

Selesai potong kue..
Ray perlahan memperhatikanku. Sudut pandangnya tak pernah terlepas dari bola mataku. Aku segera menyuapin kue potongan pertamaku kepada Nico. Namun, ternyata Ray yang sudah memakan kue itu bukan Nico.
"Happy Brithday Maria Titis. Love love ku." Begitu tutur katanya sambil memasangkan kalung liontin ke leherku.
Aku tertegun dan berkaca-kaca dengan semua peristiwa ini.

Andai engkau tahu
Bila menjadi aku
Sejuta rasa dihati
Lama tlah kupendam,
Tapi akan kucoba mengatakan

Ku ingin kau menjadi milikku
Entah bagaimana caranya
Lihatlah mataku untuk memintamu
Ku ingin jalani bersamamu
Coba dengan sepenuh hati
Ku ingin jujur apa adanya
Dari hati

Kini engkau tahu
Aku menginginkanmu
Tapi takkan kupaksakan
Dan kupastikan
Kau belahan hati
Bila milikku..

Menarilah bersamaku
Dengan bintang-bintang
Sambutlah diriku
Untuk memelukmu

Dari Hati miliknya Club 80's pun juga menjadi korban malam ini.

"Semua itu adalah perasaanku dan tetap ada dalam hatimu."
"Ray, benar Tis. Aku sudah menceritakan semua hal yang telah terjadi padamu."
"Haruskah aku When you believe it Kka lagi?"
"Tis, ini aku, gadis cantik yang seusai konser Ray dan segera memeluk serta mencium Ray."
"Aku tak butuh kau datang! Aku tahu kau hanya ingin aku percaya dan memaafkan Ray lagi bukan? Tak perlu berbasa-basi santai. Aku sadar diri kok."
"Tis.." ucap gadis cantik tersebut memanggil sepenggal namaku.
"Apa? Sandiwara apa lagi yang akan kalian semua lakukan terhadapku?"

Hening sesaat..
"Hati tak bisa kalian tawar lagi dalam panggung sandiwara ini."
"Titis! Jangan keras kepala!" Bentak Ibuku.
"Oh Ibu, terlibat juga dalam panggung sandiwara Nico, Bu?"
Semua orang pun menuju ke arahku. Betapa terkejutnya mereka semua mendengar perdebatan dan perucapanku dengan Ibuku sendiri.
"Kebohongan yang enak di dengar, mengalahkan kebenaran yang disampaikan dengan kasar." Tegas Nico dengan terkejut.
"That's right. Dan aku tahu Ray tidak bersalah dalam hal ini. Aku tahu siapa nama kamu, gadis cantik dan dimana rumahmu?"
"Lantas mengapa kau tak mempercayai aku?" Sahut gadis cantik itu bernama nama kamu.
"Karena ini juga bagian dari rencanaku untuk menguji kesetiaan, pengorbanan, dan pengabdian cinta Ray untukku."
"Titis!" Teriak semua orang di dalam rumah ini.
"Jadi, aku luluskan Tis dalam ujian cintamu?" Ray meminta kepastianku sambil mencolek daguku yang kecil dan memegang kedua tanganku.
"Pasti lulus dong, Ray!" Celetuk Nico sambil memamerkan ijazah kelulusan cinta Ray terhadapku. Aku segera menyerobotnya dari tangan Nico dan membaca ijazah itu.
"Kok Kepala Sekolahnya kamu sih, Nic? Aku kan juga tanda tangan lho waktu kamu ngumpetin di belakang rumah Cakka." Protesku seketika.
"Hahaha. Itu ijazah ujian keisenganku terhadapmu, Tis." Sahut Nico dengan cengiran gigi close up nya.
"Kenapa gak sekalian ke ijabzah saja? Biar kamu dan cintamu selamanya untukku, Maria Titis sayangku." Tutur Ray sambil menyenggol-nyenggol bahuku.
"Awwww! Sakit...!" Teriak Ray karena Ibuku telah menjewer telinganya dan Ayahku telah mencubit lengan kanannya.

Akhirnya semua kisah yang salah ini bukanlah sebuah kutukan. Meskipun saat itu aku sempat mempercayai kutukan itu benar-benar ada. Saat ini, besok, dan seterusnya rencana Tuhan selalu indah pada waktunya. Saaaaatu hal lagi kutukan itu akan pergi dengan sikap dan cara kita menghakhirinya dan agar kita tidak terlalu menghiperbolakan peristiwa. See you...

26 July 2015

Penawar Patah Hatiku

Aku rindu dengan caramu menjelaskan sesuatu apapun itu. Aku rindu ketika tengah malam kau meneleponku selama seribu tujuh ratus dua belas kali tak pernah kuangkat. Dan kau masih melakukan hal yang membuatku semakin kesal dan ingin memeluk masa lalu kembali.

Aku mencintaimu mungkin tidak dengan hal kesempurnaan yang kau inginkan. Aku adalah hal itu yang bisa kaubaca dari mataku, mata yang tujuh tahun lalu menatapmu dan menemanimu selama setengah bulan menjelang gerbang perjuangan dan perpisahan kita. Saat itu, aku masih berumur tujuh belas tahun kurang tiga bulan. Apakah kau tidak pernah tahu, di mata gadis seusiaku, kau adalah pria sempurna selayaknya seperti seorang pangeran soleh yang selalu hadir dalam kehidupanku. Sering kali aku bertanya hal bodoh ini kepada Tuhan bahkan aku sering kali menyalahkan Tuhan dengan tragedi perjumpaan tragis kita ini.

Lihatlah kacamatamu, wahai seorang pria yang selalu kuagungkan di depan seluruh teman-temanku. Lensa yang kau pakai tidak terlalu tebal dengan frame berwarna hitam dan ia melekat tampak manis, berperan sesuai dengan karakter kewibawaan dan kepandaianmu. Pada akhirnya aku terlalu sibuk mengharapkanmu hingga kusiapkan hatiku untuk terluka berkali-kali.

Aku mencintaimu dan rasanya tujuh tahun menunggumu sudah sangat cukup lama bagiku. Pangeran soleh, aku mohon kepadamu. Lihatlah gadis polos ini, gadis yang diam-diam mengagumimu berdiri tepat di depan cermin kesayanganmu, melambaikan tangan dan tersenyum untukmu setiap saat. Gadis polos ini sangat rela mencintaimu meskipun mungkin kau hanya hidup dalam angan. Seberapa seringnya kau bertanya kepadaku meskipun kau tak pernah mengatakannya secara terus terang tentang apakah patah hatiku sudah tak lagi parah? Ayo, aahkanlah pandanganmu padaku, aku tahu wahai pangeran solehku, apa isi hatimu. Aku ini hanyalah penghapus yang merindukan tulisan teduh sepertimu, tapi izinkan aku menjadi pena yang selalu siap menemani penghapus untuk obat penawar patah hatiku yaitu biarkan aku menulis segalanya tentang kamu.

20 January 2015

Sahabat Sejati Hidupku

Waktu akan selalu berjalan. Ia tak akan pernah berhenti berputar. Walaupun kita akan terus menjalani dengan mimpi yang tetap. Saat kita melangkah, janganlah ragu untuk tetap berlari.

Nama Kamu, kini namaku telah disebut olehnya. Aku berdiri diambang pintu menatap tajam kelopak matanya. Sosoknya telah lama bersinggah disepanjang perjalanan hidupku. Namun, ia tak bersinggah ditempat yang kutuju. Kini aku segera berlari meninggalkannya.
"Sudah selesai belum Ray aransemennya?" Suara itu menggugah sedikit lamunan Ray. Ketika hendak menyelipkan partirtur lagu yang ia buat khusus untuk seseorang, terjatuh sudah tepat di depan kaki Rio, sahabat terbaik Ray. Entah, Rio pun tak begitu banyak bertanya tentang partirtur lagu itu. Meskipun Rio hampir setiap hari bersamanya.

"Walaupun ingin tak akan mudah untuk jalani hari. Janganlah pernah mencoba menyerah! Dan berhenti saat terjatuh. Bersama kita membaginya." Terbaca sudah kertas yang tertinggal di bangku taman yang tak jauh dari tempat Ray dan Rio yang berada di ruang musik itu. Rasa penasaranku semakin menjadi bentuk penyerangan. Sejenak aku memandangi tulisan di kertas lusuh itu.

"Meski terus akan mencari. Temukan sebuah jawaban."
"Apa arti hidup ini? Janganlah ragu untuk tetap berlari."

Percakapan itu menghanyutkan aku dalam sepenggal kisah. Tanpa sadar aku menyahut percakapan Ray dan Rio yang telah mendarat di depanku memandangi keindahan alam sekitar ini. Ray dan Rio menatapku tajam dan aku kembali meneruskan perucapanku, "Bersama kita membaginya. Jangan pernah kau berhenti !!" Kalimat terakhirku untuk meninggalkan mereka tanpa pamit. Aku segera berlari menangis di sepanjang koridor sekolah.

Tak perlu lagi kau sembunyi di sana dalam gelap dan sepi harimu. Aku disini kan menggenggam tanganmu. Temani dan menerangi duniamu selalu.

Selesai kutulis dalam sebuah diary kecilku diiringi tetesan air mata. Lalu aku selipkan ke dalam tas ranselku yang telah siap untukku bawa esok hari.

Keesokkan harinya..
Aku terlambat pergi ke sekolah. Sesampai disekolah. Astaga!!! Pintu gerbang telah terkunci dengan gembok emas. Panik menjadi teman pagi hariku. Mondar - mandir tak jelas dan mengacak - acak rambut hingga berantakkan. Kini ku coba berpikir mencari sebuah cara agar dapat masuk. Perlahan sosok yang kulihat sama persis diruang musik itu membukakan pintu gerbang untukku dan segera menyeretku masuk ke halaman sekolah. Saat ini, aku di bawanya berlari menelusuri koridor - koridor sekolah.
Muhammad Raynald Prasetya, nama panjang itu terdengar sayup - sayup ketika Bu Rina, guru matematika ku mengabsen kelas IPA dan sorot kedua bola mata itu tepat menangkap sosokku yang tertangkap basah mengamatinya lamat - lamat. Sekejap aku tersenyum manis. Kini aku terengah - engah mengikuti gerakkan sosok yang membawaku berlari sedari tadi.
"Capek juga. Disini kita bakal aman." Ucapnya sambil menahan lelahnya.
"Kamu?" Kata pertama yang aku lontarkan ketika bercakap dengannya.
Ruang musik yang terletak sangat jauh dari ruang kelas yang biasanya terpakai. Setengah mati aku mencoba menahan rasa peningku yang sedari tadi menempel.
"Makasih ya?" Sepatah kata lagi kuucapkan untuknya. Ia hanya tersenyum dan menyandarkan kepalaku di bahunya dan aku membiarkannya begitu saja. Sosoknya mengusap air mataku yang lagi - lagi melumuri kedua pipiku.
"Mario Stevano Aditya Haling" begitu dirinya menyebut nama lengkapnya dengan sedikit nada tertawa.
"Panggil saja Rio dari kelas IPS. Anak paling kece." Sahutku sebagai balasannya. Aku dan Rio pun tertawa kecil sambil mengingat kisah perkenalan secara diam - diam.
Dari seberang terdengar suara lantang yang sangat mengerikan.
"HEH !!" Teriakkan khas dari Ray yang tiba - tiba muncul. Ray segera menarikku dari sandaran Rio. Sementara genggaman tangan Ray dan Rio sangat kuat. Aku hanya bisa menjerit lirih dan menahan rasa sakit. Ray dan Rio memulai genderang pertengkaran yang hebat ini hingga memanas. Lagi - lagi kepalaku dihantam rasa kepeningan. Ray dan Rio mulai melepaskan genggaman itu.
Pada akhirnya aku pun terjatuh hingga kucuran darah mengalir dari hidungku mulai bercerita.

Hujan sangat deras dengan gagah Ray menerobos segala waktu untuk menyelamatkanku. Ray tahu tentang kondisiku dan penyakit terparahku. Kami bertiga memang bersahabat sejak kecil. Banyak kisah dan cerita bahkan pula banyak hantaman permasalahan dan pertengkaran.

Sebulan kemudian..
Ray dan Rio masih terjerat dalam rasa permusuhan. Renggang sudah persahabatan itu. Sementara aku telah pindah ke luar negeri sejak terhitung dari masa kritis pertengkaran itu dan penyakitku yang mulai mengganas.

Dua bulan kemudian..
Ruang musik itu biasanya terpenuhi dengan sebuah canda dan tawa tiga orang anak yang bersahabat telah lama. Namun kini tak terlihat lagi sosok keceriaan itu. Ray dan Rio merasa kesal dengan dihantui bayang - bayang yang sama. Namun, mereka berdua masih menyimpan rasa gengsi tinggi untuk memulai meminta maaf.
Nawin, murid baru yang sudah seminggu lalu menghampiri Ray dan Rio yang sedang kucing-kucingan di ruang musik itu, Nawin mencoba mengakrabi mereka. Namun, kali ini hanya mendapat sebuah hentakkan.
"Kenalan sama Ray saja sanah!"
"Rio saja tuh yang banyak followersnya."
"Ray jago segala musik."
"Rio tuh cogan paling kece."
"Diam. Jangan banyak tanya!" Ucap Nawin sambil mengeluarkan senjata terampuhnya untuk mengikat kedua tangan mereka.
"Alamak." Keluh Ray dan Rio bersamaan saling tatap sambil membayangkan tragedi buruk hari ini. Sementara Nawin terkikih sendiri melihat sikap mereka berdua yang lucu.
"Ngapain ketawain? Lucu?" Cerocos Rio.
"Kalian tuh aneh. Berantem kok kayak diskusi. Dikit akrab dikit main serang."
Ray dan Rio sejenak merenungkan perkataan Nawin. Ray dan Rio saling lirik dan kembali bersatu menyatukan ide untuk meloloskan diri dari jeratan benda yang di pakai Nawin. Sesaat terlihat akur dan tertawa bersama, bermain bersama lagi.

Sehari kejadian itu..
Saat ini, Ray dan Rio mengantapkan keyakinannya untuk meminta maaf. Rio pergi ke rumah Ray sambil membawa benda perikraran persahabatan itu dan Ray juga melakukan hal yang sama.

Di sudut kota aku (nama kamu) menangis menahan sepi. Setiap rintikkan hujan itu selalu membawaku dalam sebuah penggalan cerita baru. Aku kembali menyusuri taman sekolahku yang dulu. Di persimpangan lalu lintas goreskan cerita tentang senja.

AWWWWWW!!!!
Ray segera menolongku dari bahaya sebuah truk yang akan menghantamku.
"Ray!!!" Teriak aku dan Rio bersamaan berlari mencoba menyelamatkan Ray. Namun, bahaya justru mendatangi kami bertiga.
BRAAKK !! DAMMM !!!
Tragis sudah peristiwa hari ini. Aku (nama kamu), Ray dan Rio mengalami kecelakaan yang mengerikan. Anehnya kami terkapar di tempat yang sama dan tak berjauhan.
"Rio, maafkan aku. Maaf, aku tak sempat untuk berkata jujur kepadamu. Mengapa aku membiarkan kalian selalu berselisih paham. Karena aku tak mau kamu mengetahui atas penyakit yang ku derita bertahun-tahun.Maaf jika ini terlambat. - Nama Kamu."
"Rio, maafkan aku tak seharusnya aku memusuhimu dan maafkan aku begitu banyak hal yang kusembunyikan diantara kita termasuk tentang persahabatan kita. Aku, kamu dan Nama Kamu (KITA) tetap sahabat. -Ray"
"Ray, maafkan iio atas selama ini. iio baru sadar dan io tak sengaja membaca buku diary Nama Kamu yang tertinggal dirumah sakit itu. iio sadar sekarang iio paham dengan semua keadaan ini. Nama Kamu, maafin io juga ya? iio kurang peka dengan semuanya. :'( io tahu kamu cewek yang paling kuat dan berbeda. -Rio."

Surat itu bertabur di tempat yang tertuju dan telah menjadi saksi peristiwa kepergian kami bertiga. Meskipun ada sedikit twice. Kita selamanya sahabat.

19 January 2015

Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Di tiap tirai aku sisakan jejakku untuk selalu menemani bayangan wajahmu. Sosokmu yang sungguh tak berkedip di bola mataku. Semua terlihat manis dan dunia khayalanku semakin berterbangan ketingkat tinggi tanpa hitungan detik. Air mata yang telah mengering sejak semalam suntuk aku sibuk menggoreskan penaku di berbagai tempat pemberontakkanku. Ini memang sulit bagiku untuk tak terbiasa berpesta dimalam terencana. Diiringi rerintikan hujan yang membasahi sekujur tubuhku, adakah getaran jiwa masih bersamaku? Aku pikir ini tindakan terbodohku. Awalnya aku hanya menganggap cinta itu hanya sebuah mitos. Semakin aku mengelaknya semakin terasa sesak hantaman didadaku ketika kau goreskan luka di mataku. Hati kecil ini benar-benar rapuh ketika kau sentuh dunia miliknya; kepercayaan cinta itulah yang kau bunuh tanpa kau dan aku sadari. Di balok ukiranmu yang terkadang menimbulkan pertanyaan singkat berhasil menyeret jiwaku yang kosong. Kita bergurau terkadang terlihat sebagai orang asing. Aku tahu kita ini adalah sebatas teman tanpa kepastian.

09 October 2014

Sekeping Liontinku

Semalaman suntuk, aku tengah mengerjakan deadline. Aku terdiam sekitar lima belas menit. Lima belas menit mencoba kembali kutelusuri suatu perkara yang mengganjal dipikiranku beberapa minggu ini. Rasanya, aku bermain di dunia luas yang kupercayai bahwa itulah surga. Tentu, saat itu perasaanku sedang dilema antara kesepian dan ketidakjelasan amarah yang akhir - akhir ini aku luapkan tanpa berdrama.
Minggu, 5 Oktober 2014 lalu. Tak kusangka hari ini yang kukira akan menjadi sebuah kenangan manis walaupun tak pasti. Kini berbalik meniadi sebuah tragedi mengenaskan untuk kupandang. Peristiwa tenggelamnya sekeping liontin berwarna merah jambu hancur tanpa tersisa dilautan luka dalam tanpa berdarah. Sosoknya yang telah menghanyutkan simpatiku begitu sangat mempesona. Meskipun mahal senyumnya dan kesederhanaanya telah merebut segala rasa yang berkelana mencoba mencari bayang semu.
Dan kau tak akan pernah tahu tentang siapa malaikat yang selalu kudiskusikan denganmu. Yang kau tahu hanyalah sebuah gembok telah menyulapnya menjadi tangisan mahal ketika dalam dua hal yang berbeda. Malaikatku kini telah terluka biasan sinar asmaramu yang begitu kuat menerkam dan mengunci semua keadaan.

28 July 2014

Kita, Teka-Teki Silang Biasa

Kala pagi terasa nyaman, ketika aku menatap keindahan itu. Entah, mengapa dari sedikit pembicaraan KITA yang singkat itu, aku sedikit sekali menangkap sebuah isyarat sederhana. Seperti dalam penjara yang berbulan - bulan, rasa penasaran ini serasa menjadi sebuah misteri. Ataukah kamu berhasil membuatku jatuh, tetapi kau mengangkatku hingga terbang ke nirwana surga yang kau hiasi dengan sejuta rasa. Kuperhatikan sosokmu bahkan kusempatkan melihat senyumanmu setiap malam sehabis makan malam. Mungkin, hanya reaksi molekul kecil dalam mimpiku berekspresi. Aku tak tahu mengapa aku menjadikanmu sosok penasaran dalam ingatan otakku? Terlalu singkat dilatasi waktu pertemuan KITA yang masih terjaga dalam desakkan angan gelombang yang akan menghanyutkan setumpukkan pasir yang terbangun di bibir pantai. Aku jenuh dengan segala pemberontakkanku. Aku terlalu lemah menjadikan daging yang tak bersua. Sekecil yang tak pernah kubayangkan dalam hitungan detik. Datar sekali perbincangan KITA yang masih terlelap dalam belaian seorang semu diantara KITA menjawab masa laiu. Tercabik - cabik gelisahku yang kian merana menjelma keegoisan. Adakah ruang yang selalu menjaga persinggahanku kala aku lengah? Adakah lentera yang tak bersulutkan api yang menyala - nyala? Aku hanya ingin memadamkan segala kejenuhanku. Dimanakah salju yang kupikir mengubur kekakuanku dalam diam rindu? Seperti tujuanku selalu menjadi hambar karena kemunafikkanku, menghasilkan reaksi yang tak sesuai. Aku terlalu rusuh dalam memainkan sebuah formula. Aku paham atas segala pola pikirmu yang seakan - akan itu isyarat terbesar yang ku yakini hingga sekarang. Di batas bibir merahmu, aku meneduhkan segala yang ku rengkuh. Namun, kau menghindar sentuhan kecil itu. Dan sosokmu pergi begitu saja tanpa sebuah suara. Termangu menjadi ciri khasku setelah sosok yang berbeda denganku. Harusnya kau jadikan perbedaan itu istimewa bukan perbedaan yang selalu menimbulkan perdiskusian antara perhakiman dan algojo yang mengatur. Inilah kita, teka-teki silang biasa.

DOA dan SENANDUNG

Senandung takbir yang masih berkumandang merdu. Melantunkan sayup - sayup sederhana yang mampu menghiasi lentera di kala pagi butaku. Terpaan angin yang semakin menumbuhkan rasa kesejukan mengundang segala seisi dunia seluas samudra. Embun pagi yang sering membukakan mata. Terkadang menetes tepat di jari jemari mungil ini. Sejuknya kalbu yang tak sebening embun. Mengisyaratkan sosokku yang tak pernah menjadi penangkal. Perucapan tanpa pelafalan tak akan menyentuh ke gendang telinga yang akan meneruskan ke rongga kecil yang masih tersembunyi di dalam lubang. Banyak peristiwa yang menjadi sebuah dasar pencerminan. Tutur tak semena dengan lidah yang tak sejajar dengan bibir. Kadang terlena ataupun lengah mewujudkan mantra yang tak sesuai. Dilatasi waktu yang tak sadar menyentuh organ tubuh. Hingga menghasilkan reaksi yang beracun di dalam hati. Namun, salahkah bila aku menjadikanmu tujuan dalam keterbatasanku? Aku insan yang bercela. Masih tersungkur di kakiMu, mohon beribu - ribu pengampunan atas perbuatan nista yang selama ini kukubur rapat - rapat dan ku biarkan hingga menjadi sepucuk gunung yang menjulang tinggi di bukit Kalvari. Sosokku tak dapat menyentuhmu yang terikat jarak ratusan meter. Bahkan detak yang tak berdenyut, nadi yang tak berurat, dan rasa yang berinteraksi dengan bibir. Terbanglah sebuah aksara memanah raga. Hari kemenangan yang terikrar sejak peluncuran kembang api yang ku lewati tadi malam. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi pribadi yang tak mudah berucap nista, sikap yang selalu menyeret ke dalam pengadilan kini telah engkau bersihkan dari siksa. Kau mengajarkanku untuk berbenah diri hari ini. SELEMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H. MOHON MAAF LAHIR dan BATIN. :)